“Fiction” chapter 7

Sesampainya di rumah, Wisnu langsung membongkar isi lemari meja belajarnya. Di sana terdapat buku-buku musik terutama tentang belajar gitar. Papa Wisnu memang seorang dosen musik di sebuah universitas swasta di Bandung. Jadi dari kecil, Wisnu dan kakaknya sudah dikenalkan dengan musik.

Wisnu mengambil sebuah buku yang berada di tumpukan teratas. Buku itu tentang cara bagaimana bermain gitar. Lalu di tumpukan yang lain, akhirnya Wisnu menemukan buku tentang bermain drum yang didapatnya saat dia merengek karena lelah dengan gitar. Namun sekarang, dia sangat tergila-gila dengan gitar.

Sayang untuk bermain bass, Wisnu tidak menemukan buku apa pun. Namun setidaknya dia bisa mengajari Gani secara langsung cara bermain bass. Hanya tinggal belajar membaca tablatur dan memperkenalkan nama-nama string yang ada di bass.

Tak lama setelah mengumpulkan buku-buku itu, Wisnu pergi ke rumah Iman yang dicapainya dalam tiga puluh menit dengan menggunakan sepeda motornya.

Setelah “latihan” di studio tadi, mereka memutuskan untuk pergi ke rumahnya Iman yang memang asli orang Bandung sama seperti Wisnu untuk belajar memainkan instrumen masing-masing.

“Masuk Nu!” kata Iman saat membuka pintu dan melihat Wisnu.
Wisnu pun mengikuti Iman menuju kamarnya. Di sana sudah ada Alex dan yang lainnya. Saat Wisnu memasuki kamar Iman, semua orang menoleh ke arahnya. Wisnu yang sadar menjadi pusat perhatian segera duduk dengan yang lainnya. Dia mengeluarkan buku-buku yang tadi dibawanya dari rumah.

“Ini buku-buku teori untuk belajar gitar sama drum.” Kata Wisnu, lalu dia menoleh ke arah Gani. “Buat lo, Gan. Gue langsung ajarin lo aja karena gue gak punya bukunya dan teori belajar bass gak beda jauh sama gitar.” Lanjutnya.

Gani tersenyum lebar. “Ya syukurlah deh Nu, kalau lo yang ngajarin langsung. Soalnya gue bingung kalau sama teori, mending langsung praktek.” Kata Gani.

“Ya udah, kalau gitu…”

“Tunggu dulu!” kata Iman memotong perkataan Wisnu.

“Kenapa Man?” tanya Intan.

Iman berdehem sekali. “Sebuah band kan harus punya nama. Kita harus udah punya nama buat band kita nih.” Kata Iman.

“Nama tuh gampang. Yang penting belajar dulu.” Sanggah Wisnu.

“Bener tuh kata Wisnu.” Timpal Alex. “Kalau udah jago, baru deh kita bikin nama buat band kita.”

“Tapi udah mau bikin band aja itu sebuah keputusan yang besar. Nama sebuah band haruslah unik agar bisa dikenal dan mudah diingat. Jadi gak salah juga kalau mikir dari sekarang.” Kata Intan.

“Iya. Saya juga bisa gabung sama kalian kaya mimpi. Gak pernah kepikiran mau gabung di band. Semua yang sudah dilalui seperti cerita fiksi saja rasanya.” Indra ikut menimpali.

Tiba-tiba saja Iman menepuk tangannya. Lalu dia memeluk Indra dengan erat. “Gue dapet nama band kita berkat Indra.” Kata Iman antusias.

Semuanya serempak ternganga mendengar perkataan Iman. Secepat itukah dia mendapat inspirasi untuk menamai sebuah band hanya dari perkataan Indra.

“Terus apa nama band kita?” giliran Gani kini yang bersuara.

“Nama band kita adalah… Fiction.” Kata Iman. Melihat wajah teman-temannya yang meminta penjelasan lebih lanjut, Iman melanjutkan perkataannya. “Benar kata Indra tadi. Gue bikin band ini kaya mimpi. Gak nyata gitu. Kaya di film-film atau di kartun. Bener-bener terasa fiksi. Jadinya gue kepikiran nama Fiction buat band kita.” Jelas Iman.

Yang lain terlihat serius dan tertarik mendengar penjelasan Iman.
“Bagus kok. Gue suka.” Seru Alex yang langsung disetujui oleh yang lainnya. Hanya Wisnu yang diam saja.

“Gimana Nu? Lo setuju juga kan?” tanya Iman.

Wisnu menghembuskan nafasnya. “Iya deh terserah kalian. Latihannya mau jadi kagak nih?” tanya Wisnu sedikit kesal karena mereka melupakan tujuan awal mereka untuk belajar.

“Eh, iya deh iya. Sekarang kita belajar yu!” kata Iman.

Wisnu mulai menjelaskan bagaimana cara membaca buku teori tentang belajar gitar dan drum. Setelah dia menjelaskan, Wisnu beralih ke Gani dan menjelaskannya secara langsung bagaimana cara bermain bass. Alex dan Intan juga ikut belajar dan membantu mereka. Semuanya terlihat serius. Itulah yang membuat Wisnu lebih “sedikit” bersemangat untuk mengajari mereka. Setelah mahir, ada keyakinan kecil dalam hatinya bahwa band bernama Fiction ini akan sejajar dengan Fetro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s