Chiara

Rendi melangkahkan kakinya menuju ruang kuliah setelah memarikirkan motornya. Dia menyapa beberapa orang yang dikenalnya sebelum dia benar-benar masuk ke ruang kuliah. Di sana sudah ada beberapa temannya yang siap menerima mata kuliah pagi ini dari bu Alis.

“Hai Ren! Udah selesai tugasnya bu Alis?” tanya Jessi, salah satu teman sekelasnya.

“Udah.” Jawabnya singkat, namun senyumnya tak pernah menghilang dari raut wajahnya.

Senyum Rendi membuat wajah Jessi merona merah. Sudah menjadi rahasia umum kalau Jessi menyukai Rendi. Dan sepertinya Rendi tahu, namun dia hanya menanggapinya biasa saja.

“Eh entar abis kuliah bisa antar aku ke toko kue? Mamaku besok ulang tahun.” Kata Jessi selembut mungkin. Itu salah satu andalan Jessi untuk meluluhkan hati Rendi. Namun Rendi sepertinya tak pernah menyadari itu.

Rendi berpikir sejenak. “Hmm, boleh. Tapi aku gak bisa lama ya!” kata Rendi.

Semua yang ada di kelas yakin kalau hati Jessi kini sedang melompat-lompat kegirangan. “Okay, gak masalah.” Kata Jessi sambil tersenyum lebar.

Tak lama kemudian, bu Alis masuk untuk mengisi mata kuliah English for Bussines. Rendi saat ini berada di semester tujuh jurusan bahasa Inggris. Setelah masuk, bu Alis segera menyuruh mahasiswanya untuk mengumpulkan tugas yang dia tugaskan minggu lalu.

Selama perkuliahan terlihat jelas sekali bahwa Jessi sesekali memperhatikan Rendi. Terkadang pandangan mereka saling bertemu dan Rendi menanggapinya dengan tersenyum pada Jessi. Tentu saja objek yang disenyuminya balas tersenyum semanis-manisnya sampai semut pun mungkin ingin mendapatkan senyum itu. Namun ada satu orang yang diam-diam juga memperhatikan tingkah mereka. Dia adalah Andra, teman sekelas Rendi dan Jessi, juga teman SMA Jessi. Sudah lama juga dia memandang Jessi sebagai seorang wanita yang didambakannya. Namun Jessi memilih untuk melihat Rendi.

Setelah perkuliahan berakhir, Jessi segera menghampiri Rendi.
“Jadi kan Ren?” tanya Jessi.

Rendi mengangguk. “Yu, kita pergi sekarang.” Ajak Rendi.

Di perjalanan menuju toko kue yang ada di sebuah pusat perbelanjaan, Rendi dan Jessi banyak mengobrol. Kadang mereka pun tertawa saat ada cerita yang lucu. Sesampainya di sana, Jessi mulai melihat-lihat kue yang akan dibelinya untuk ibunya. Kadang-kadang dia juga menanyakan pendapat Rendi. Saat Jessi menemukan kue yang akan dibelinya, tiba-tiba Rendi menghampirinya.

“Eh Jess, maaf. Kalau kamu pulang sendiri bisa gak? Ibuku baru aja ngasih tahu, kalau ada kerabat yang sakit dan aku harus segera pulang.” Kata Rendi panik.

Jessi terdiam sejenak karena perkataan Rendi yang tiba-tiba dan juga ekspresinya. Ekspresi Rendi terlihat sangat panik untuk ukuran kabar berita kerabat yang sakit. Seperti orang yang mendengar bahwa orang tuanya yang sakit. Lalu Jessi segera tersenyum. “Hmm, gak apa-apa kok Ren. Aku bisa pulang sendiri kok.” Kata Jessi.

“Makasih ya Jess dan maaf banget. Aku jadi gak enak sama kamu.” kata Rendi merasa bersalah.

“Nggak apa-apa kok. Sudah cepat sana! Kamu lagi buru-buru kan?” kata Jessi.

Setelah itu, Rendi pergi meninggalkan Jessi di toko kue. Jessi pun memutuskan untuk menyelesaikan urusannya di sana, lalu bergegas pulang. Saat dia sedang menunggu taksi lewat, Andra yang kebetulan lewat berhenti di depannya.

“Kamu ngapain di sini Jess?” tanya Andra setelah membuka helmnya.

“Eh Ndra. Aku lagi nunggu taksi nih.” Kata Jessi.

Andra mengerutkan keningnya. “Bukannya kamu pergi sama Rendi tadi? Kemana dia sekarang?” tanya Andra.

“Oh dia pulang duluan. Katanya ada kerabatnya yang sakit, jadi dia harus cepat-cepat pulang.” Kata Jessi.

“Ya udah, aku anter kamu pulang aja. Yu naik!” ajak Andra sambil menyodorkan helm lain yang dibawanya.

“Gak apa-apa nih?” kata Jessi.

“Kalau apa-apa, aku gak bakal nganter kamu.” kata Andra sambil tersenyum.

Jessi pun balas tersenyum. Senyuman yang membuat Andra segera memakai helmnya kembali untuk menyembunyikan rona merah tipis yang muncul di pipinya. Jessi pun menerima helm yang disodorkan Andra lalu naik ke motornya.

Sepanjang jalan mereka mengobrol. Namun di sela-sela obrolan, sempat Andra berpikir apa yang dipikirkan Rendi hingga tega meninggalkan Jessi dan menyuruhnya pulang sendiri. Andra sudah tidak tahan lagi dengan sikap Rendi yang memperlakukan Jessi seenaknya. Besok Andra tidak akan diam saja.

***

Rendi segera masuk ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Di sana ada seorang wanita paruh baya. Dia sedang mengompres dahi seorang anak perempuan yang sedang berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. Rendi segera menghampirinya.

“Bu, Chiara gak apa-apa?” tanya Rendi cemas.

“Gak apa-apa kok. Dia cuma demam. Sudah ibu kasih obat dan panasnya sudah mulai menurun. Ibu juga kaget tiba-tiba gurunya menghubungi ibu dan bilang kalau Chiara gak enak badan.” Kata perempuan yang dipanggil ibu oleh Rendi.

Anak perempuan yang bernama Chiara itu tiba-tiba membuka matanya. “Papa sudah pulang ya?” kata Chiara lirih.

Rendi tersenyum. “Iya Chiara. Papa sudah pulang. Kamu gak apa-apa sayang?” kata Rendi sambil mengelus lembut kepala kepala Chiara.

“Baik Pa. Chiara sudah minum permen jeruk tadi dikasih nenek.” Kata Chiara.

“Ya sudah. Sekarang kamu tidur aja ya! Nanti kalau sudah sembuh, kita main.” kata Rendi.

Chiara dengan antusias mengangguk, lalu dia memejamkan matanya kembali untuk beristirahat.

***

Esok harinya, Andra mengajak Rendi ke sebuah tempat yang cukup sepi di kampus untuk mengajaknya bicara saat Rendi baru saja turun dari mobilnya.

“Kenapa kemaren kamu tinggalin Jessi?” tanya Andra langsung.

“Oh soal itu. Aku harus cepet-cepet pulang. Kerabatku sakit.” Jawab Rendi.

“Tapi bukan berarti kamu gak bisa nganter Jessi pulang doang dulu kan?” kata Andra tajam.

Rendi mulai mengerti arah pembicaraan ini. “Okay. Aku minta maaf. Kemarin aku buru-buru banget.” Kata Rendi.

Andra mendekatkan tubuhnya pada Rendi. “Lebih baik mulai sekarang, kamu jangan perlakukan Jessi seenaknya lagi. Kamu juga pasti tahu kalau Jessi itu suka sama kamu. Jangan manfaatkan perasaan Jessi dengan kasih harapan-harapan yang gak berguna.” Tuntut Andra.

“Aku gak pernah memanfaatkan perasaan Jessi. Aku…”

Rendi tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena tinju Andra tiba-tiba saja mendarat di pipi kirinya.

“Terus yang kamu lakukan selama ini apa, hah?” kata Andra setengah berteriak.

“Rendi!” seru seseorang.

Orang tersebut adalah Jessi. Dia segera menghampiri Rendi.

“Kamu gak apa-apa Ren?” tanya Jessi cemas, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Andra. “Apa yang kamu lakukan Ndra? Ngapain kamu pake pukul-pukul Rendi?” tanya Jessi menuntut penjelasan.

Andra siap untuk melontarkan argumennya. “Dia kurang ajar Jess. Selama ini dia cuma ingin mempermainkan kamu.” kata Andra.

“Lalu kenapa? Aku… aku memang suka sama Rendi.” Kata Jessi tiba-tiba mengungkapkan perasaannya kepada Rendi. Jessi lalu menatap Rendi.

“Aku tahu.” Kata Rendi. “Aku tahu kamu suka sama aku Jess, hanya saja aku gak bisa balas perasaan kamu. Aku juga minta maaf sama kamu dan Andra kalau selama ini kelihatannya aku mempermainkan kamu.” kata Rendi.

“Denger kan Jess. Dia gak ada perasaan sama kamu.” kata Andra.

“Tapi, kenapa Ren?” tanya Jessi sambil berusaha menahan air matanya.

Rendi terdiam sejenak. “Lebih baik kalian ikut aku. Aku akan menjelaskannya.” Kata Rendi.

Mereka bertiga pun pergi dengan mobil Rendi ke suatu tempat. Tempat itu merupakan sebuah taman kanak-kanak yang ditempuh selama tiga puluh menit dari kampus mereka. Andra dan Jessi bingung, mengapa Rendi membawa mereka ke taman kanak-kanak.

Sesampainya di sana, terlihat beberapa anak sedang bermain untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Mereka bertiga pun turun dari mobil. Dan pada saat yang sama, seorang anak perempuan melihat kedatangan Rendi lalu berlari menghampirinya.

“Papa!” seru Chiara dari kejauhan sambil berlari menghampiri Rendi.
Andra dan Jessi terkejut saat anak yang menhampiri Rendi memanggilnya papa.

Rendi tersenyum dan memeluk Chiara. “Chiara, gimana sekolahnya? Kamu sudah benar-benar sehat kan?” tanya Rendi.

Chiara mengangguk, menandakan bahwa semuanya baik-baik saja. Lalu Chiara memiringkan kepalanya. “Papa kenapa?” tanya Chiara sambil menunjuk pipi kiri Rendi.

“Gak apa-apa. Tadi papa jatuh.” Kata Rendi. “Tuh kamu dipanggil temanmu.” Kata Rendi saat melihat seorang anak memanggil Chiara.
Chiara pun pergi meninggalkan Rendi dan kembali bermain dengan teman-temannya.

“Ren, itu…” Tiba-tiba saja Jessi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Dia anakku. Namanya Chiara. Sekarang dia berusia empat tahun. Kemarin itu, dia sakit.” Kata Rendi mulai menjelaskan. “Waktu SMA, aku mempunyai pacar. Aku sangat mencintainya dan kami pun melakukan hal yang tidak pantas itu. Beruntunglah kami berhasil lulus SMA sebelum semuanya terungkap. Saat dia memberi tahuku bahwa dia hamil, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Awalnya aku berusaha membujuknya untuk menggugurkan kandungannya.”

Rendi berusaha menelan bongkahan kenangan pahit yang pernah dilakukannya dulu, lalu dia kembali bercerita. “Tapi dia tidak mau. Aku menyadari, bahwa hati nuraniku juga menginginkan anak itu. Lalu kami mengatakan yang sebenarnya pada orang tua kami. Tentu mereka kaget mendengar kabar itu. Namun kedua orang tua kami pun menyadari bahwa tindakan menggugurkan anak yang bahkan belum tahu kerasnya dunia adalah tindakan yang paling kejam. Dan kami pun sepakat untuk mempertahankan anak itu. Lalu lahirlah Chiara. Aku menamainya Chiara karena dia adalah cahaya baru dalam hidupku. Dalam bahasa latin, Chiara berarti cahaya.” kata Rendi.

“Lalu, dimana sekarang ibu Chiara?” tanya Andra.

Rendi menghela nafas panjang. “Dia meninggal setelah melahirkan Chiara. Umurnya yang masih terbilang remaja, membuat fisiknya belum siap dan terjadilah pendarahan hebat hingga dia meninggal.” Kata Rendi mengingat kembali kejadian itu.

Lalu, Rendi melihat ke arah Jessi. “Maka dari itu Jess, aku belum siap menerima perasaan siapapun. Aku belum siap membuka hatiku. Setiap melihat Chiara, aku selalu mengingat ibunya. Aku sadar kalau Chiara juga butuh sosok ibu, namun saat ini aku belum siap. Aku juga harus menyelesaikan kuliahku dulu. Tapi aku yakin hari itu akan datang. Hari dimana aku menemukan seseorang yang bisa menjadi ibu bagi Chiara dan juga mau menerima Chiara sebagai anaknya sendiri.” Kata Rendi.

Jessi dan Andra hanya terdiam mendengar penjelasan Rendi. Semuanya terlalu menegejutkan. Selama ini Rendi menyembunyikan rahasia terdalamnya. Rahasia yang bernama Chiara.

#tantangannulis JiaEffendie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s