“Fiction” chapter 6

Wisnu baru saja keluar dari toilet kampus saat tiba-tiba seorang perempuan menarik tangannya. Dan perempuan itu adalah Intan. Intan membawanya ke sebuah taman yang ada di fakultas peternakan.

“Intan kan? Ada apa?” tanya Wisnu dengan berbagai tanda tanya memenuhi kepalanya.

“Serius Nu. Lo kudu gabung sama band kita.” Kata Intan. Nadanya menandakan sebuah kepanikan.

“Gue kan udah bilang gue gak…”

“Setidaknya lo latih band-nya deh.” Potong Intan. “Gue gak tahan kalau mereka kayak kemaren.” Kata Intan frustasi.

Kemarin? Oh ya, kemarin mereka melakukan latihan perdananya.

“Emangnya kenapa?” tanya Wisnu.

Untuk mengetahui rasa penasarannya, Wisnu akhirnya mengikuti mereka ke studio setelah perkuliahan selesai. Dia datang bersama Intan karena Indra dan Iman sepertinya bolos kuliah terakhir tadi. Dan benar saja. Indra, Iman, Gani, dan Alex sudah berada di studio.

“Eh Nu. Intan udah cerita ya?” kata Iman saat melihat Intan datang bersama Wisnu.

“Emangnya ada apa sih?” tanya Wisnu penasaran.

“Dengerin aja.” Kata Alex dengan wajah lesu.

Mereka bersiap-siap untuk memainkan sebuah lagu. Wisnu berpikir sepertinya mereka tidak akan membawakan lagu rock karena Indra masih belum lancar bermain gitar. Dari intro yang dimainkan keyboard Intan, lagu tersebut merupakan lagu pop yang chordnya terbilang mudah. Dan mereka semua pun mulai memainkan bagiannya.

Wisnu menatap mereka semua dengan mulut menganga lebar. Permainan macam apa ini? Ketukan drum sama sekali tidak ada yang masuk. Gitar tidak mengikuti ritme. Bass hanya asal petik. Yang terlihat bagus hanya Intan dan Alex di vokal.

“Stop!” seru Wisnu yang membuat mereka semua berhenti bermain. “Tadi itu apa?”

“Yah, begitulah Nu. Kayaknya kita punya sedikit masalah.” Kata Gani.

“Sedikit? Itu sih banyak.” Kata Wisnu lalu dia menatap Iman. “Man, lo itu serius mau bikin band gak sih?” tanya Wisnu.

Iman hanya menundukan kepalanya. “Gue pikir lo mau gabung Nu. Ya gue semangat-semangat aja ajakin yang lain karena gue pikir ada lo. Gue emang gak bisa main alat musik apa pun tapi gue pikir lo bisa ngajarin gue.” Kata Iman lemas.

“Sorry ni ya, tapi gue pengen tanya.” Kata Wisnu. “Atas dasar apa lo ngerekrut mereka?” tanya Wisnu. Tentu semua orang tahu yang dimaksud dengan mereka oleh Wisnu adalah Alex dan kawan-kawan.

“Kalau Alex, gue denger suara dia pas dia lagi ikut lomba adzan di kampung. Kebetulan gue sama Alex satu kawasan tinggalnya. Suaranya merdu banget.” Seru Iman antusias seakan dia lupa dengan masalah yang terjadi. “Terus Intan. Lo semua pasti udah tahu lah Intan itu pemain piano andalan jurusan kita.” Lanjutnya sambil melirik Intan. Yang diliriknya terlihat ogah-ogahan. Iman melanjutkan ceritanya. “Kalau Gani, gue ketemu dia pas lagi di toko musik. Dia abis beli bass. Ya gue kira dia bisa mainnya.” Jelas Iman.

“Gue baru mau belajar sih, tapi beneran deh. Gue pengen punya band.” Kata Gani. “Gue ngerti perasaan Iman yang pengen bentuk band. Main alat musik dengan gaya yang kita hendaki itu merupakan kebebasan bagi gue. Bukan cuma mau terkenal atau so aksi, tapi gue pengen nunjukin kalau musik yang kita mainkan bisa menghibur orang-orang yang mendengarkannya. Itu aja cukup buat gue. Jadi gue harap lo bisa bantu kita Nu.”

Wisnu terkesiap mendengar ucapan Gani. Sepertinya yang lain juga begitu. Gani yang polos dan pendiam seakan menohok Wisnu yang selama ini memang menyukai musik. Musik memang ada untuk menghibur orang. Tidak peduli bagaimana dan musik apa yang akan ditampilkan. Selera orang-orang memang berbeda namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada beberapa orang yang akan menikmati musik mereka.

Wisnu menghela nafas panjang. “Baiklah. Gue gabung.” Kata Wisnu membuat semua orang yang ada di sana memandangnya dengan tatapan tak percaya. Tiba-tiba Iman menghampiri Wisnu dan memegang kedua pundaknya.

“Nu, lo bisa ulang apa yang lo bilang tadi gak? Kayaknya pendengaran gue agak terganggu.” Kata Iman.

“Gue gabung ama band lo.” Kata Wisnu sambil menunjuk dahi Iman dan mendorongnya menjauh.

Namun usaha Wisnu menjauhkan Iman darinya gagal total karena setelah itu semua bersorak dan menghambur ke arah Wisnu, termasuk juga Iman. Hanya Intan saja yang berdiam di pojokan tapi dia ikut tersenyum.

Wisnu mengenyahkan para lelaki itu dari tubuhnya. “Tunggu dulu!” serunya yang membuat Iman, Alex, Gani, dan Indra menjauh sedikit dari Wisnu. “Gue bakal beneran gabung kalau Iman, Gani, dan Indra bisa memainkan instrumen dengan lancar selama satu bulan. Jadi gue harap lo semua mau bekerja keras kalau mau band ini maju.” Kata Wisnu.

Iman menelan ludahnya. “Satu bulan? Gue bisa gak ya?” tanya Iman pada dirinya sendiri.

“Bisalah. Seperti yang dibilang Wisnu. Kalau mau band ini maju, kita harus rajin latihan. Kamu yang pertama mengusulkan pembentukan band ini kan? Makanya kita harus serius.” Kata Indra sambil menepuk pundak Iman.

“Bener Dra. Dibalik semua ini emang gue yang mengusulkan bikin band. Jadi gue harus tanggung jawab sama kemajuan band ini.” kata Iman.

Semua yang ada di ruangan tersebut tersenyum termasuk Wisnu walaupun sangat samar. Dia berharap band ini bisa sukses. Walaupun sebenarnya berat untuknya untuk bergabung ke dalam sebuah band karena dia punya janji dengan seseorang. Janji untuk membuat sebuah band bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s