“Fiction” chapter 5

Hari berikutnya datang tanpa bisa dicegah. Seperti biasa, Wisnu datang ke kampus dengan sepeda motornya. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Jadi Wisnu punya waktu luang yang banyak. Dan waktu luangnya tersebut dimanfaatkan oleh Iman yang berusaha membujuk Wisnu untuk bergabung di band-nya.

“Nu hari ini kita mau latihan. Lo ikut ya! Kita kurang tebengan nih.” Kata Iman.

Wisnu menatap Iman tanpa ekspresi. “Bukannya si Gani itu bawa mobil ke kampus ya? Mana mungkin kalian kurang tebengan.” Kata Wisnu.

Iman terlihat gelagapan. “Eh itu, mobilnya si Gani lagi…”

“Udah deh Man.” Kata Wisnu memotong perkataan Iman. “Gak ada gunanya. Gue gak tertarik sama band.” Lanjutnya.

“Oke oke!” kata Iman. “Tapi gue punya permintaan buat lo. Sekali ini aja!” pinta Iman.

“Apa?” tanya Wisnu seraya mengerutkan keningnya.

“Antar saya beli gitar ya!” kata Indra tiba-tiba saja bergabung dalam percakapan antara Iman dan Wisnu.

Wisnu menatap Indra agak enggan. Namun dengan segera Iman mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah kepada Wisnu.

“Please, Nu. Indra kan masih pemula. Dia perlu bantuan buat beli gitar. Lo mau kan?” pintanya sambil memelas.

Wisnu menghembuskan nafas ke udara. “Oke! Tapi ini doang. Gak pake ngajak gue lagi gabung ke band.” Kata Wisnu.

Iman dan Indra tersenyum puas. Lalu berangkatlah Wisnu dan Indra ke sebuah toko musik yang ada di jalan Naripan untuk membeli sebuah gitar.

Sesampainya di toko tersebut, mereka mulai melihat-lihat berbagai macam gitar yang terpajang di sana.

“Saya bingung, Nu. Mau beli yang kaya gimana.” Kata Indra.

“Patokan budget-mu berapa?” tanya Wisnu.

“Kalau soal harga sih gak masalah. Saya sudah bilang sama bapak dan bapak setuju kalau saya gabung sama band-nya Iman. Biar ada kegiatan katanya. Jadi beliau sangat mendukung saya.” Kata Indra.

Wisnu menatap Indra tak percaya. Selain menyukai musik rock, Indra juga orang yang cukup berada ternyata. Anak ini memang benar-benar penuh dengan kejutan.

“Kalau buat nge¬-band mending langsung beli gitar elektrik. Cuma gitar elektrik gak bisa bunyi kalau gak pake amplifier.” Jelas Wisnu.

Indra nampak kebingungan. “Terus kalau gak bunyi gimana mainnya?” tanya Indra.

“Kalau cuma buat latihan di rumah ya gak masalah. Yang penting kamu bisa menguasai chord gitarnya. Kalau mau bunyi ya latihannya di studio atau enggak beli amplifier-nya sekalian.” Kata Wisnu.

Indra mengangguk-anggukan kepalanya. “Wisnu, kamu saja ya yang pilihkan gitar buat saya. Saya benar-benar bingung mau beli yang mana. Semuanya saya suka.” Kata Indra sambil nyengir.

“Yakin? Ini kamu yang bakal main lho. Bukan aku.” Kata Wisnu.

Indra menganggukan kepalanya mantap. Dan mulailah Wisnu memilih-milih gitar yang sekiranya cocok untuk Indra. Berkali-kali dia mengambil gitar dan meletakannya kembali. Lalu akhirnya dia menemukan sebuah gitar sepertinya cocok untuk Indra.

“Kalau yang ini gimana?” tanya Wisnu meminta pendapat Indra. “Gitarnya cukup ringan dan kualitasnya juga bagus.”

Indra mengamati gitar yang dipilih Wisnu dengan seksama. “Boleh. Saya suka kok.” Kata Indra sambil tersenyum puas. “Menurutmu, apakah saya sekalian juga beli amplifier-nya?” tanya Indra.

Wisnu berpikir sejenak. “Kayaknya belum perlu deh. Kamu juga masih dalam proses memperdalam kemampuan bermain gitarmu kan? Nanti saja kalau sudah benar-benar mahir.” Kata Wisnu.

Indra menuruti perkataan Wisnu dan dia jadi membeli gitar yang dipilihkan Wisnu. Saat perjalanan pulang, Indra bertanya pada Wisnu.

“Wisnu, kamu kayaknya bisa pinter main gitar dan juga ngerti soal gitar. Kenapa kamu gak mau gabung dengan band-nya Iman?” tanya Indra.

Wisnu terdiam sejenak. “Bikin band itu gak mudah. Gak bisa band dibentuk dengan asal-asalan. Kalau mau sebuah band berjalan, orang-orang yang ada didalamnya harus serius.” Kata Wisnu.

“Kami serius kok.” Kata Indra. “Buktinya aku sudah membeli gitar. Yang lain pun begitu. Dan aku yakin Iman memilih orang-orang tersebut tidak sembarangan.”

Wisnu memutuskan untuk diam saja sampai mengantarkan kembali Indra ke studio tempat mereka akan latihan untuk pertama kalinya. Nampak Iman dan ketiga orang lainnya menunggu di depan studio.

“Makasih ya Nu.” Kata Indra.

“Gak masuk dulu?” kata Iman mencoba membujuk Wisnu.

Wisnu bersiap untuk menjitak kepala Iman tapi Iman sempat mengelak. “Iya deh iya. Gue cuma bercanda.” Kata Iman sambil nyengir. “Yu kita masuk!” ajak Iman pada yang lainnya.

Mereka semua nampak bersemangat mengikuti Iman. Semuanya bercengkrama sambil memasuki studio itu. Setelah mereka masuk, barulah Wisnu pergi dari situ. Dan tanpa diketahui Wisnu, di dalam studio terjadi sebuah kekacauan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s