“Fiction” chapter 4

“Bikin band?” seru Wisnu dan Indra berbarengan saat Iman mengutarakan idenya.

Iman menepuk tangannya. “Ide gue hebat kan? Hitung-hitung refreshing lah. Tiap hari liat hewan ternak mulu. Bisa-bisa kita nanti kena syndrom ke-ternak-an yang bikin kelakuan kita kaya kambing dan kawan-kawannya.” Kata Iman.

“Bagus!”

“Enggak!”

Indra dan Wisnu menanggapi pernyataan Iman berbarengan tapi pendapat mereka berdeda. Iman menatap mereka berdua bergantian. Lalu tatapannya berhenti di Wisnu.

“Kenapa lo gak setuju Nu? Keren kan kalau punya band. Lo juga bisa main gitar kan?” tanya Iman.

“Cuma tiga orang dan…”

“Kita punya enam orang kok Nu. Bentar lagi mereka bakal ke sini.” Kata Iman. “Tuh orangnya!” lanjutnya saat dia melihat tiga orang sedang menghampiri meja mereka.

Mereka yang dimaksud Iman adalah seorang pria berperawakan tinggi, seorang pria berperawakan layaknya pria biasa, dan seorang perempuan dengan rambut ponytail-nya yang bergoyang setiap kali dia melangkahkan kakinya.

“Wisnu mungkin udah tahu mereka. Mereka sama kaya kita dari fakultas peternakan cuma beda kelas sama kita. Yang ini namanya Gani” kata Iman menunjuk pria dengan tinggi sekelas pemain basket.

“Yang satunya lagi namanya Alex dan yang cewe namanya Intan.” Lanjutnya.

“Indra. Saya mahasiswa pindahan dari Jogja.” Kata Indra memperkenalkan dirinya.

Setelah prosesi perkenalan selesai, mereka bertiga ikut duduk dan mulai membahas rencana mereka.

“Jadi kita bakal bikin band. Gue main drum, Wisnu di gitar, Gani di bass, Alex di vokal, Intan di keyboard, dan Indra…” Iman berhenti sejenak. “Lo bisa maen gitar gak Dra?” tanya Iman.

“Bisa sih. Tapi cuma sedikit. Itu pun dasar-dasarnya aja.” Kata Indra.

“Ya, gak apa-apa. Bisa dilancarin nanti seiring berjalannya waktu.” Kata Iman. “Gimana? Keren kan?” tanya Iman lagi.

“Gue gak ikut.” Kata Wisnu.

Semua orang menatap ke arah Wisnu.

“Lo kenapa sih Nu? Kita kan udah punya enam orang. Posisinya juga udah ditentukan. Apa lagi?” tanya Iman.

Wisnu memajukan badannya. “Denger ya! Bikin band itu bukan hal yang mudah. Kita kudu bisa nyamain persepsi tiap orang yang ada di band itu. Belum kalau anggota yang tiba-tiba cedera atau sakit. Kita harus bisa mengantisipasi hal itu agar kegiatan band bisa tetap berjalan lancar. Kita juga harus punya modal buat beli alat musik dan sewa studio untuk latihan. Dan semua itu gak mudah.” Jelas Wisnu.

Semuanya terpaku mendengarkan penjelasan Wisnu. Tapi tak satu pun yang bereaksi saat Wisnu berhenti bicara. Karena tak ada yang bicara lagi, Wisnu bangkit dari tempat duduknya. “Aku duluan! Kalau kalian tetep mau bikin band, anggota kalian juga sudah lengkap.” katanya pada semua yang ada di sana.

Setelah Wisnu menghilang, mereka baru tersadar.

“Apa maksudnya?” tanya Gani.

“Lo yakin dia bakal ikut kita Man?” kali ini giliran Alex yang bersuara.

“Apa-apaan itu tadi?” tanya Intan menanggapi juga.

“Gimana ini?” tanya Indra.

Iman tersenyum kecil. “Wisnu punya bakat. Tadi dia juga menjelaskan bagaimana sebuah band seharusnya bekerja. Dari sana aku yakin dia punya pengalaman dan pengetahuan tentang band. Kita tidak akan melepaskannya begitu saja. Kita harus bisa menjadikannya bagian dari band kita.” Kata Iman.

Semua orang hanya termanggu. Selanjutnya mereka kembali ke aktivitas masing-masing dengan tambahan pikiran tentang sebuah band.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s