“Fiction” chapter 3

Kuliah Fisiologi selama satu jam empat puluh menit yang diberikan Pak Deni akhirnya berakhir. Wisnu segera membereskan bukunya dan berniat menghampiri Indra. Saat dia berdiri dari tempat duduknya, ternyata Indra sudah berada di belakangnya.

“Hai mas. Ternyata mas kuliah di sini ya!” kata Indra dengan senyum ramahnya.

“Kamu sendiri? Perasaan belum pernah lihat di sini.” Kata Wisnu.

Indra tertawa kecil. “Saya mahasiswa pindahan di sini. Saya dan sekeluarga harus pindah ke Bandung karena Bapak dipindahkan kerjanya ke Bandung.” Jelas Indra.

“Mahasiswa pindahan ternyata. Gue kira kakak kelas yang ngulang. Lo kenal Nu?” tanya Iman yang tiba-tiba ikut dalam percakapan Indra dan Wisnu.

“Waktu perjalanan dari Jogja ke sini, gue ketemu dia.” Kata Wisnu.

Tampang bengong Iman keluar. “Kebetulan macam apa ini? Jangan-jangan kalian berjodoh?” kata Iman.

Jitakan kedua dari Wisnu mendarat di kepala Iman. Iman mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Dia memprotes Wisnu yang sudah menjitaknya dua kali dalam sehari ini. “Salah siapa ngomong sembarangan terus.” Kata Wisnu.

“Oh ya, gue Iman.” Kata Iman pada Indra setelah protesannya hanya ditanggapi begitu saja oleh Wisnu.

“Indra. Asal dari Jogja.” Kata Indra.

Mata Iman membelakak. “Lo nonton Fetro gak?” tanya Iman antusias. Namun rasa antusiasnya tiba-tiba menguap begitu saja. “Eh lo tahu Fetro kan?” tanya Iman. Dia meragukan pengetahuan Indra tentang band rock. Dari luar, Indra terlihat hanya menyukai musik-musik jaman dulu dan keroncong.

Indra tersenyum lebar. “Tahu dong. Kemarin juga saya nonton konser mereka yang di Jogja. Saya fans beratnya Adi, gitarisnya itu lho. Mana mungkin saya lewatkan kesempatan nonton konser mereka saat mereka ada di Jogja.” Kata Indra sama antusiasnya ketika Iman bertanya tentang Fetro tadi.

“Wah keren! Gimana penampilan mereka? Emang sih Adi keren, tapi aku suka Ryan, vokalisnya. Suaranya itu bro!” kata Iman dengan mata yang berbinar-binar.

“Iya. Ryan juga keren.” Kata Indra menyetujui.

“Ehem!” Wisnu berdehem dan membuat kedua orang yang sedang asik mengobrol tentang Fetro itu menoleh ke arahnya. “Mending ke kantin yu! Gue haus.” Kata Wisnu.

Iman menepuk bahu Wisnu sambil cengengesan. “Hehehe. Sorry Nu. Lo sih gak suka sama Fetro. Jadi pas gue nemu Indra gue jadi keasikan.” Kata Iman.

“Lho, Wisnu gak suka Fetro?” tanya Indra heran.

Kini dia menepuk bahu Indra. “Dia emang aneh Dra. Wisnu itu suka sama musik rock tapi gak suka sama Fetro.” Kata Iman. Seperti baru terbangun dari mimpi, Iman tiba-tiba terperanjat.

“Bro, tadi tuh kan gue punya ide yang hebat. Yu kita ke kantin. Kita ngobrol tentang ide gue ini.” kata Iman antusias sambil menarik Indra dan Wisnu menuju kantin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s