“Fiction” chapter 1

Wisnu menyandarkan punggungnya di sebuah pilar yang ada di stasiun. Masih lima belas menit lagi keretanya datang. Sengaja dia datang mepet dengan waktu kedatangan kereta. Dia benci menunggu. Jika dia mempunyai janji dengan temannya dan temannya belum datang setelah lima belas menit dari waktu yang ditentukan, maka dia akan pergi dan membatalkan janjinya. Sudah berapa kali Wisnu diprotes karena sifatnya yang tergila-gila akan ketepatan waktu. Namun tak pernah sekalipun dia memperdulikanya. Intinya dia benci menunggu.

Kereta jurusan ekonomi jurusan Surabaya-Bandung tiba di stasiun Lempuyangan Yogyakarta tepat pada waktu seperti yang tertera pada tiket. Para penumpang dengan tujuan akhir Yogyakarta mulai membludak keluar lengkap dengan barang bawaan mereka yang bahkan kedua tangan mereka pun kesulitan untuk membawanya. Tontonan yang sungguh menarik yang hanya bisa dinikmati di stasiun kereta.

Wisnu naik ke gerbong dua lalu dia duduk di kursi nomor 13 E. Kursi di kereta ekonomi ini saling berhadapan. Nomor duduk 13 berhadapan dengan nomor 12. Kebetulan Wisnu mendapatkan tempat duduk dekat jendela, tempat favoritnya. Belum ada orang yang menempati kursi 13 D. Begitu pula dengan 12 D dan 12 E. Tak lama kemudian datang seorang pemuda yang tampak seumuran dengan Wisnu.

“Permisi mas. Ini gerbong dua kan?” tanya pemuda itu.

“Iya, benar.” Jawab Wisnu seperlunya.

Pemuda itu lalu menatap nomor kursi yang tertera di atas jendela dan mencocokannya dengan nomor yang ada di atas tiket. Kemudian dia tersenyum lega.

“Bu, Pak! Sini! Sudah ketemu tempat duduknya!” seru pemuda itu yang sepertinya memanggil kedua orangtuanya.

Nampak seorang pria dan wanita paruh baya mendatangi pemuda itu. Ekspresinya tak jauh berbeda dengan pemuda tadi saat akhirnya menemukan tempat duduk mereka.

Oalah, di sini po. Sudah cari-cari dari tadi.” Kata sang ibu.

“Nih Dra! Angkat barang-barangnya!” kata sang bapak.

Pemuda itu mulai menaikan barang-barang mereka ke atas teralis besi yang sudah disediakan untuk meletakan barang-barang. Barang-barang mereka cukup banyak. Beruntunglah Wisnu tidak membawa banyak barang. Hanya satu tas backpack yang berada di pangkuannya.

“Maaf ya mas. Maklum baru pertama kali naik kereta.” Kata pemuda itu saat dia akhirnya duduk di kursi nomor 13 D. “Dari mana mau kemana mas?” tanya pemuda itu.

“Dari Yogyakarta mau ke Bandung mas. Masnya?” tanya Wisnu balik. Sebenarnya dia sedang malas diajak mengobrol. Tapi dia meladeni obrolan pemuda tersebut hanya untuk kesopanan.

“Wah sama. Saya juga mau ke Bandung. Kami sekeluarga mau pindah ke sana. Oh ya, saya Indra.” Kata pemuda yang mengaku bernama Indra itu.

“Wisnu.” Jawab Wisnu singkat.

“Masnya asli Jogja?” tanya Indra lagi.

Wisnu menggeleng. “Bukan mas. Orang tua sih dari sini, tapi saya lahir di Bandung besar juga di Bandung.” Jawab Wisnu.

Oalah, namanya Jawa sekali tapi ternyata jiwanya Jawa Barat yo mas.” Kata Indra.

Wisnu hanya tertawa kecil. Tak lama kemudian kereta pun berangkat meninggalkan stasiun. Percakapan tersebut pun berakhir begitu saja karena Indra dan keluarganya asik bercengkrama sedangkan Wisnu memutuskan untuk mendengarkan musik lewat earphone dari ponselnya. Hanya sesekali saja jika Indra dan keluarganya menawarkan makanan atau minuman kepada Wisnu.

Pukul dua pagi, kereta hampir tiba di stasiun Bandung. Wisnu pamit terlebih dahulu pada Indra dan keluarganya walaupun kereta belum sepenuhnya berhenti di stasiun. Saat kereta benar-benar berhenti, Wisnu melompat keluar dari kereta lalu pergi menuju pintu keluar stasiun.

“Wisnu!” seseorang memanggil Wisnu saat dia keluar dari stasiun.
Wisnu menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa orang yang memanggilnya. Setelah dia mengetahui siapa orang tersebut, Wisnu menghampirinya dengan langkah gontai.

“Kan Wisnu bilang gak usah jemput pa.” Kata Wisnu pada orang yang dipanggilnya Papa.

“Rumah kita kan cukup jauh dari stasiun. Mana mungkin Papa tega membiarkanmu naik umum pagi buta gini. Yu masuk!” kata Papa Wisnu menyuruhnya untuk segera naik mobil.

Mobil Avanza hitam itu pun meluncur membelah jalanan Bandung di pagi buta. Suasana jalanan masih sepi. Hanya di beberapa titik saja terlihat satu dua orang sosok manusia yang akan memulai aktivitas mereka.

“Gimana liburannya? Bude sehat?” tanya Papa Wisnu membuka percakapan pemecah kesunyian di perjalanan.

“Biasa saja. Bude sehat kok.” Jawab Wisnu.

“Kakakmu? Lancar aktivitasnya?” tanya Papanya lagi.

Wisnu terdiam sejenak. “Lancar mungkin.” Kata Wisnu.
Papa Wisnu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Akur lagi dong Nu, kamu sama kakakmu.” Katanya.

Wisnu tak menjawab. Dia hanya membuang pandangan ke luar jendela dan menatap jalanan dengan tatapan kosong. Wisnu sudah lelah berurusan dengan seseorang yang seharusnya dia panggil “kakak”.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s