“Fiction” chapter 7

Sesampainya di rumah, Wisnu langsung membongkar isi lemari meja belajarnya. Di sana terdapat buku-buku musik terutama tentang belajar gitar. Papa Wisnu memang seorang dosen musik di sebuah universitas swasta di Bandung. Jadi dari kecil, Wisnu dan kakaknya sudah dikenalkan dengan musik.

Wisnu mengambil sebuah buku yang berada di tumpukan teratas. Buku itu tentang cara bagaimana bermain gitar. Lalu di tumpukan yang lain, akhirnya Wisnu menemukan buku tentang bermain drum yang didapatnya saat dia merengek karena lelah dengan gitar. Namun sekarang, dia sangat tergila-gila dengan gitar.

Sayang untuk bermain bass, Wisnu tidak menemukan buku apa pun. Namun setidaknya dia bisa mengajari Gani secara langsung cara bermain bass. Hanya tinggal belajar membaca tablatur dan memperkenalkan nama-nama string yang ada di bass.

Tak lama setelah mengumpulkan buku-buku itu, Wisnu pergi ke rumah Iman yang dicapainya dalam tiga puluh menit dengan menggunakan sepeda motornya.

Setelah “latihan” di studio tadi, mereka memutuskan untuk pergi ke rumahnya Iman yang memang asli orang Bandung sama seperti Wisnu untuk belajar memainkan instrumen masing-masing.

“Masuk Nu!” kata Iman saat membuka pintu dan melihat Wisnu.
Wisnu pun mengikuti Iman menuju kamarnya. Di sana sudah ada Alex dan yang lainnya. Saat Wisnu memasuki kamar Iman, semua orang menoleh ke arahnya. Wisnu yang sadar menjadi pusat perhatian segera duduk dengan yang lainnya. Dia mengeluarkan buku-buku yang tadi dibawanya dari rumah.

“Ini buku-buku teori untuk belajar gitar sama drum.” Kata Wisnu, lalu dia menoleh ke arah Gani. “Buat lo, Gan. Gue langsung ajarin lo aja karena gue gak punya bukunya dan teori belajar bass gak beda jauh sama gitar.” Lanjutnya.

Gani tersenyum lebar. “Ya syukurlah deh Nu, kalau lo yang ngajarin langsung. Soalnya gue bingung kalau sama teori, mending langsung praktek.” Kata Gani.

“Ya udah, kalau gitu…”

“Tunggu dulu!” kata Iman memotong perkataan Wisnu.

“Kenapa Man?” tanya Intan.

Iman berdehem sekali. “Sebuah band kan harus punya nama. Kita harus udah punya nama buat band kita nih.” Kata Iman.

“Nama tuh gampang. Yang penting belajar dulu.” Sanggah Wisnu.

“Bener tuh kata Wisnu.” Timpal Alex. “Kalau udah jago, baru deh kita bikin nama buat band kita.”

“Tapi udah mau bikin band aja itu sebuah keputusan yang besar. Nama sebuah band haruslah unik agar bisa dikenal dan mudah diingat. Jadi gak salah juga kalau mikir dari sekarang.” Kata Intan.

“Iya. Saya juga bisa gabung sama kalian kaya mimpi. Gak pernah kepikiran mau gabung di band. Semua yang sudah dilalui seperti cerita fiksi saja rasanya.” Indra ikut menimpali.

Tiba-tiba saja Iman menepuk tangannya. Lalu dia memeluk Indra dengan erat. “Gue dapet nama band kita berkat Indra.” Kata Iman antusias.

Semuanya serempak ternganga mendengar perkataan Iman. Secepat itukah dia mendapat inspirasi untuk menamai sebuah band hanya dari perkataan Indra.

“Terus apa nama band kita?” giliran Gani kini yang bersuara.

“Nama band kita adalah… Fiction.” Kata Iman. Melihat wajah teman-temannya yang meminta penjelasan lebih lanjut, Iman melanjutkan perkataannya. “Benar kata Indra tadi. Gue bikin band ini kaya mimpi. Gak nyata gitu. Kaya di film-film atau di kartun. Bener-bener terasa fiksi. Jadinya gue kepikiran nama Fiction buat band kita.” Jelas Iman.

Yang lain terlihat serius dan tertarik mendengar penjelasan Iman.
“Bagus kok. Gue suka.” Seru Alex yang langsung disetujui oleh yang lainnya. Hanya Wisnu yang diam saja.

“Gimana Nu? Lo setuju juga kan?” tanya Iman.

Wisnu menghembuskan nafasnya. “Iya deh terserah kalian. Latihannya mau jadi kagak nih?” tanya Wisnu sedikit kesal karena mereka melupakan tujuan awal mereka untuk belajar.

“Eh, iya deh iya. Sekarang kita belajar yu!” kata Iman.

Wisnu mulai menjelaskan bagaimana cara membaca buku teori tentang belajar gitar dan drum. Setelah dia menjelaskan, Wisnu beralih ke Gani dan menjelaskannya secara langsung bagaimana cara bermain bass. Alex dan Intan juga ikut belajar dan membantu mereka. Semuanya terlihat serius. Itulah yang membuat Wisnu lebih “sedikit” bersemangat untuk mengajari mereka. Setelah mahir, ada keyakinan kecil dalam hatinya bahwa band bernama Fiction ini akan sejajar dengan Fetro.

Minggu (tidak) Tenang

Sudah cuku lama gak nge-post. Baru aja tadi nge-post tantangan nulisnya dari mba Jia Effendie. Buat yang Fiction, entar dulu ya!

Ceritanya sih dari tanggal 26 kemarin tuh minggu tenang menjelang UAS. Tapi tetep aja itu minggu bikin gak tenang. Menjelang UAS aja banyak tugas. Salah satunya makul PKn.

Dosennya itu nyuruh aku sama temen sekelasku bikin makalah individu dan referensinya minimal dari empat buku. Gak boleh ngambil referensi dari internet kecuali buat contoh kasus. Baru kali ini deh ke perpus minjem buku lebih dari dua (keliatan banget anak malesnya).

Gak cuma itu. Dosennya juga nyuruh ngerangkum buku paket PKn. SEBUKU GUYS! (capslock jebol)

Masih ada lagi. UAS take home tentang Cross Culture Understanding. Semuanya disuruh bikin video tentang perbedaan budaya Indonesia sama Jerman. Mumet banget deh. Belum cari tempat buat ngambil videonya, belum translete dari bahasa Indonesia ke bahasa Jermannya. Das ist sehr kompliziert!

Ya begitulah hari-hariku di minggu (tidak) tenang yang menurunkan produktivitas nge-post di blog (selain emang lg gak ada jaringan internetnya). Yang sedang merasakannya pun, I know your feel bro!

Chiara

Rendi melangkahkan kakinya menuju ruang kuliah setelah memarikirkan motornya. Dia menyapa beberapa orang yang dikenalnya sebelum dia benar-benar masuk ke ruang kuliah. Di sana sudah ada beberapa temannya yang siap menerima mata kuliah pagi ini dari bu Alis.

“Hai Ren! Udah selesai tugasnya bu Alis?” tanya Jessi, salah satu teman sekelasnya.

“Udah.” Jawabnya singkat, namun senyumnya tak pernah menghilang dari raut wajahnya.

Senyum Rendi membuat wajah Jessi merona merah. Sudah menjadi rahasia umum kalau Jessi menyukai Rendi. Dan sepertinya Rendi tahu, namun dia hanya menanggapinya biasa saja.

“Eh entar abis kuliah bisa antar aku ke toko kue? Mamaku besok ulang tahun.” Kata Jessi selembut mungkin. Itu salah satu andalan Jessi untuk meluluhkan hati Rendi. Namun Rendi sepertinya tak pernah menyadari itu.

Rendi berpikir sejenak. “Hmm, boleh. Tapi aku gak bisa lama ya!” kata Rendi.

Semua yang ada di kelas yakin kalau hati Jessi kini sedang melompat-lompat kegirangan. “Okay, gak masalah.” Kata Jessi sambil tersenyum lebar.

Tak lama kemudian, bu Alis masuk untuk mengisi mata kuliah English for Bussines. Rendi saat ini berada di semester tujuh jurusan bahasa Inggris. Setelah masuk, bu Alis segera menyuruh mahasiswanya untuk mengumpulkan tugas yang dia tugaskan minggu lalu.

Selama perkuliahan terlihat jelas sekali bahwa Jessi sesekali memperhatikan Rendi. Terkadang pandangan mereka saling bertemu dan Rendi menanggapinya dengan tersenyum pada Jessi. Tentu saja objek yang disenyuminya balas tersenyum semanis-manisnya sampai semut pun mungkin ingin mendapatkan senyum itu. Namun ada satu orang yang diam-diam juga memperhatikan tingkah mereka. Dia adalah Andra, teman sekelas Rendi dan Jessi, juga teman SMA Jessi. Sudah lama juga dia memandang Jessi sebagai seorang wanita yang didambakannya. Namun Jessi memilih untuk melihat Rendi.

Setelah perkuliahan berakhir, Jessi segera menghampiri Rendi.
“Jadi kan Ren?” tanya Jessi.

Rendi mengangguk. “Yu, kita pergi sekarang.” Ajak Rendi.

Di perjalanan menuju toko kue yang ada di sebuah pusat perbelanjaan, Rendi dan Jessi banyak mengobrol. Kadang mereka pun tertawa saat ada cerita yang lucu. Sesampainya di sana, Jessi mulai melihat-lihat kue yang akan dibelinya untuk ibunya. Kadang-kadang dia juga menanyakan pendapat Rendi. Saat Jessi menemukan kue yang akan dibelinya, tiba-tiba Rendi menghampirinya.

“Eh Jess, maaf. Kalau kamu pulang sendiri bisa gak? Ibuku baru aja ngasih tahu, kalau ada kerabat yang sakit dan aku harus segera pulang.” Kata Rendi panik.

Jessi terdiam sejenak karena perkataan Rendi yang tiba-tiba dan juga ekspresinya. Ekspresi Rendi terlihat sangat panik untuk ukuran kabar berita kerabat yang sakit. Seperti orang yang mendengar bahwa orang tuanya yang sakit. Lalu Jessi segera tersenyum. “Hmm, gak apa-apa kok Ren. Aku bisa pulang sendiri kok.” Kata Jessi.

“Makasih ya Jess dan maaf banget. Aku jadi gak enak sama kamu.” kata Rendi merasa bersalah.

“Nggak apa-apa kok. Sudah cepat sana! Kamu lagi buru-buru kan?” kata Jessi.

Setelah itu, Rendi pergi meninggalkan Jessi di toko kue. Jessi pun memutuskan untuk menyelesaikan urusannya di sana, lalu bergegas pulang. Saat dia sedang menunggu taksi lewat, Andra yang kebetulan lewat berhenti di depannya.

“Kamu ngapain di sini Jess?” tanya Andra setelah membuka helmnya.

“Eh Ndra. Aku lagi nunggu taksi nih.” Kata Jessi.

Andra mengerutkan keningnya. “Bukannya kamu pergi sama Rendi tadi? Kemana dia sekarang?” tanya Andra.

“Oh dia pulang duluan. Katanya ada kerabatnya yang sakit, jadi dia harus cepat-cepat pulang.” Kata Jessi.

“Ya udah, aku anter kamu pulang aja. Yu naik!” ajak Andra sambil menyodorkan helm lain yang dibawanya.

“Gak apa-apa nih?” kata Jessi.

“Kalau apa-apa, aku gak bakal nganter kamu.” kata Andra sambil tersenyum.

Jessi pun balas tersenyum. Senyuman yang membuat Andra segera memakai helmnya kembali untuk menyembunyikan rona merah tipis yang muncul di pipinya. Jessi pun menerima helm yang disodorkan Andra lalu naik ke motornya.

Sepanjang jalan mereka mengobrol. Namun di sela-sela obrolan, sempat Andra berpikir apa yang dipikirkan Rendi hingga tega meninggalkan Jessi dan menyuruhnya pulang sendiri. Andra sudah tidak tahan lagi dengan sikap Rendi yang memperlakukan Jessi seenaknya. Besok Andra tidak akan diam saja.

***

Rendi segera masuk ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Di sana ada seorang wanita paruh baya. Dia sedang mengompres dahi seorang anak perempuan yang sedang berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. Rendi segera menghampirinya.

“Bu, Chiara gak apa-apa?” tanya Rendi cemas.

“Gak apa-apa kok. Dia cuma demam. Sudah ibu kasih obat dan panasnya sudah mulai menurun. Ibu juga kaget tiba-tiba gurunya menghubungi ibu dan bilang kalau Chiara gak enak badan.” Kata perempuan yang dipanggil ibu oleh Rendi.

Anak perempuan yang bernama Chiara itu tiba-tiba membuka matanya. “Papa sudah pulang ya?” kata Chiara lirih.

Rendi tersenyum. “Iya Chiara. Papa sudah pulang. Kamu gak apa-apa sayang?” kata Rendi sambil mengelus lembut kepala kepala Chiara.

“Baik Pa. Chiara sudah minum permen jeruk tadi dikasih nenek.” Kata Chiara.

“Ya sudah. Sekarang kamu tidur aja ya! Nanti kalau sudah sembuh, kita main.” kata Rendi.

Chiara dengan antusias mengangguk, lalu dia memejamkan matanya kembali untuk beristirahat.

***

Esok harinya, Andra mengajak Rendi ke sebuah tempat yang cukup sepi di kampus untuk mengajaknya bicara saat Rendi baru saja turun dari mobilnya.

“Kenapa kemaren kamu tinggalin Jessi?” tanya Andra langsung.

“Oh soal itu. Aku harus cepet-cepet pulang. Kerabatku sakit.” Jawab Rendi.

“Tapi bukan berarti kamu gak bisa nganter Jessi pulang doang dulu kan?” kata Andra tajam.

Rendi mulai mengerti arah pembicaraan ini. “Okay. Aku minta maaf. Kemarin aku buru-buru banget.” Kata Rendi.

Andra mendekatkan tubuhnya pada Rendi. “Lebih baik mulai sekarang, kamu jangan perlakukan Jessi seenaknya lagi. Kamu juga pasti tahu kalau Jessi itu suka sama kamu. Jangan manfaatkan perasaan Jessi dengan kasih harapan-harapan yang gak berguna.” Tuntut Andra.

“Aku gak pernah memanfaatkan perasaan Jessi. Aku…”

Rendi tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena tinju Andra tiba-tiba saja mendarat di pipi kirinya.

“Terus yang kamu lakukan selama ini apa, hah?” kata Andra setengah berteriak.

“Rendi!” seru seseorang.

Orang tersebut adalah Jessi. Dia segera menghampiri Rendi.

“Kamu gak apa-apa Ren?” tanya Jessi cemas, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Andra. “Apa yang kamu lakukan Ndra? Ngapain kamu pake pukul-pukul Rendi?” tanya Jessi menuntut penjelasan.

Andra siap untuk melontarkan argumennya. “Dia kurang ajar Jess. Selama ini dia cuma ingin mempermainkan kamu.” kata Andra.

“Lalu kenapa? Aku… aku memang suka sama Rendi.” Kata Jessi tiba-tiba mengungkapkan perasaannya kepada Rendi. Jessi lalu menatap Rendi.

“Aku tahu.” Kata Rendi. “Aku tahu kamu suka sama aku Jess, hanya saja aku gak bisa balas perasaan kamu. Aku juga minta maaf sama kamu dan Andra kalau selama ini kelihatannya aku mempermainkan kamu.” kata Rendi.

“Denger kan Jess. Dia gak ada perasaan sama kamu.” kata Andra.

“Tapi, kenapa Ren?” tanya Jessi sambil berusaha menahan air matanya.

Rendi terdiam sejenak. “Lebih baik kalian ikut aku. Aku akan menjelaskannya.” Kata Rendi.

Mereka bertiga pun pergi dengan mobil Rendi ke suatu tempat. Tempat itu merupakan sebuah taman kanak-kanak yang ditempuh selama tiga puluh menit dari kampus mereka. Andra dan Jessi bingung, mengapa Rendi membawa mereka ke taman kanak-kanak.

Sesampainya di sana, terlihat beberapa anak sedang bermain untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Mereka bertiga pun turun dari mobil. Dan pada saat yang sama, seorang anak perempuan melihat kedatangan Rendi lalu berlari menghampirinya.

“Papa!” seru Chiara dari kejauhan sambil berlari menghampiri Rendi.
Andra dan Jessi terkejut saat anak yang menhampiri Rendi memanggilnya papa.

Rendi tersenyum dan memeluk Chiara. “Chiara, gimana sekolahnya? Kamu sudah benar-benar sehat kan?” tanya Rendi.

Chiara mengangguk, menandakan bahwa semuanya baik-baik saja. Lalu Chiara memiringkan kepalanya. “Papa kenapa?” tanya Chiara sambil menunjuk pipi kiri Rendi.

“Gak apa-apa. Tadi papa jatuh.” Kata Rendi. “Tuh kamu dipanggil temanmu.” Kata Rendi saat melihat seorang anak memanggil Chiara.
Chiara pun pergi meninggalkan Rendi dan kembali bermain dengan teman-temannya.

“Ren, itu…” Tiba-tiba saja Jessi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Dia anakku. Namanya Chiara. Sekarang dia berusia empat tahun. Kemarin itu, dia sakit.” Kata Rendi mulai menjelaskan. “Waktu SMA, aku mempunyai pacar. Aku sangat mencintainya dan kami pun melakukan hal yang tidak pantas itu. Beruntunglah kami berhasil lulus SMA sebelum semuanya terungkap. Saat dia memberi tahuku bahwa dia hamil, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Awalnya aku berusaha membujuknya untuk menggugurkan kandungannya.”

Rendi berusaha menelan bongkahan kenangan pahit yang pernah dilakukannya dulu, lalu dia kembali bercerita. “Tapi dia tidak mau. Aku menyadari, bahwa hati nuraniku juga menginginkan anak itu. Lalu kami mengatakan yang sebenarnya pada orang tua kami. Tentu mereka kaget mendengar kabar itu. Namun kedua orang tua kami pun menyadari bahwa tindakan menggugurkan anak yang bahkan belum tahu kerasnya dunia adalah tindakan yang paling kejam. Dan kami pun sepakat untuk mempertahankan anak itu. Lalu lahirlah Chiara. Aku menamainya Chiara karena dia adalah cahaya baru dalam hidupku. Dalam bahasa latin, Chiara berarti cahaya.” kata Rendi.

“Lalu, dimana sekarang ibu Chiara?” tanya Andra.

Rendi menghela nafas panjang. “Dia meninggal setelah melahirkan Chiara. Umurnya yang masih terbilang remaja, membuat fisiknya belum siap dan terjadilah pendarahan hebat hingga dia meninggal.” Kata Rendi mengingat kembali kejadian itu.

Lalu, Rendi melihat ke arah Jessi. “Maka dari itu Jess, aku belum siap menerima perasaan siapapun. Aku belum siap membuka hatiku. Setiap melihat Chiara, aku selalu mengingat ibunya. Aku sadar kalau Chiara juga butuh sosok ibu, namun saat ini aku belum siap. Aku juga harus menyelesaikan kuliahku dulu. Tapi aku yakin hari itu akan datang. Hari dimana aku menemukan seseorang yang bisa menjadi ibu bagi Chiara dan juga mau menerima Chiara sebagai anaknya sendiri.” Kata Rendi.

Jessi dan Andra hanya terdiam mendengar penjelasan Rendi. Semuanya terlalu menegejutkan. Selama ini Rendi menyembunyikan rahasia terdalamnya. Rahasia yang bernama Chiara.

#tantangannulis JiaEffendie

“Fiction” chapter 6

Wisnu baru saja keluar dari toilet kampus saat tiba-tiba seorang perempuan menarik tangannya. Dan perempuan itu adalah Intan. Intan membawanya ke sebuah taman yang ada di fakultas peternakan.

“Intan kan? Ada apa?” tanya Wisnu dengan berbagai tanda tanya memenuhi kepalanya.

“Serius Nu. Lo kudu gabung sama band kita.” Kata Intan. Nadanya menandakan sebuah kepanikan.

“Gue kan udah bilang gue gak…”

“Setidaknya lo latih band-nya deh.” Potong Intan. “Gue gak tahan kalau mereka kayak kemaren.” Kata Intan frustasi.

Kemarin? Oh ya, kemarin mereka melakukan latihan perdananya.

“Emangnya kenapa?” tanya Wisnu.

Untuk mengetahui rasa penasarannya, Wisnu akhirnya mengikuti mereka ke studio setelah perkuliahan selesai. Dia datang bersama Intan karena Indra dan Iman sepertinya bolos kuliah terakhir tadi. Dan benar saja. Indra, Iman, Gani, dan Alex sudah berada di studio.

“Eh Nu. Intan udah cerita ya?” kata Iman saat melihat Intan datang bersama Wisnu.

“Emangnya ada apa sih?” tanya Wisnu penasaran.

“Dengerin aja.” Kata Alex dengan wajah lesu.

Mereka bersiap-siap untuk memainkan sebuah lagu. Wisnu berpikir sepertinya mereka tidak akan membawakan lagu rock karena Indra masih belum lancar bermain gitar. Dari intro yang dimainkan keyboard Intan, lagu tersebut merupakan lagu pop yang chordnya terbilang mudah. Dan mereka semua pun mulai memainkan bagiannya.

Wisnu menatap mereka semua dengan mulut menganga lebar. Permainan macam apa ini? Ketukan drum sama sekali tidak ada yang masuk. Gitar tidak mengikuti ritme. Bass hanya asal petik. Yang terlihat bagus hanya Intan dan Alex di vokal.

“Stop!” seru Wisnu yang membuat mereka semua berhenti bermain. “Tadi itu apa?”

“Yah, begitulah Nu. Kayaknya kita punya sedikit masalah.” Kata Gani.

“Sedikit? Itu sih banyak.” Kata Wisnu lalu dia menatap Iman. “Man, lo itu serius mau bikin band gak sih?” tanya Wisnu.

Iman hanya menundukan kepalanya. “Gue pikir lo mau gabung Nu. Ya gue semangat-semangat aja ajakin yang lain karena gue pikir ada lo. Gue emang gak bisa main alat musik apa pun tapi gue pikir lo bisa ngajarin gue.” Kata Iman lemas.

“Sorry ni ya, tapi gue pengen tanya.” Kata Wisnu. “Atas dasar apa lo ngerekrut mereka?” tanya Wisnu. Tentu semua orang tahu yang dimaksud dengan mereka oleh Wisnu adalah Alex dan kawan-kawan.

“Kalau Alex, gue denger suara dia pas dia lagi ikut lomba adzan di kampung. Kebetulan gue sama Alex satu kawasan tinggalnya. Suaranya merdu banget.” Seru Iman antusias seakan dia lupa dengan masalah yang terjadi. “Terus Intan. Lo semua pasti udah tahu lah Intan itu pemain piano andalan jurusan kita.” Lanjutnya sambil melirik Intan. Yang diliriknya terlihat ogah-ogahan. Iman melanjutkan ceritanya. “Kalau Gani, gue ketemu dia pas lagi di toko musik. Dia abis beli bass. Ya gue kira dia bisa mainnya.” Jelas Iman.

“Gue baru mau belajar sih, tapi beneran deh. Gue pengen punya band.” Kata Gani. “Gue ngerti perasaan Iman yang pengen bentuk band. Main alat musik dengan gaya yang kita hendaki itu merupakan kebebasan bagi gue. Bukan cuma mau terkenal atau so aksi, tapi gue pengen nunjukin kalau musik yang kita mainkan bisa menghibur orang-orang yang mendengarkannya. Itu aja cukup buat gue. Jadi gue harap lo bisa bantu kita Nu.”

Wisnu terkesiap mendengar ucapan Gani. Sepertinya yang lain juga begitu. Gani yang polos dan pendiam seakan menohok Wisnu yang selama ini memang menyukai musik. Musik memang ada untuk menghibur orang. Tidak peduli bagaimana dan musik apa yang akan ditampilkan. Selera orang-orang memang berbeda namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada beberapa orang yang akan menikmati musik mereka.

Wisnu menghela nafas panjang. “Baiklah. Gue gabung.” Kata Wisnu membuat semua orang yang ada di sana memandangnya dengan tatapan tak percaya. Tiba-tiba Iman menghampiri Wisnu dan memegang kedua pundaknya.

“Nu, lo bisa ulang apa yang lo bilang tadi gak? Kayaknya pendengaran gue agak terganggu.” Kata Iman.

“Gue gabung ama band lo.” Kata Wisnu sambil menunjuk dahi Iman dan mendorongnya menjauh.

Namun usaha Wisnu menjauhkan Iman darinya gagal total karena setelah itu semua bersorak dan menghambur ke arah Wisnu, termasuk juga Iman. Hanya Intan saja yang berdiam di pojokan tapi dia ikut tersenyum.

Wisnu mengenyahkan para lelaki itu dari tubuhnya. “Tunggu dulu!” serunya yang membuat Iman, Alex, Gani, dan Indra menjauh sedikit dari Wisnu. “Gue bakal beneran gabung kalau Iman, Gani, dan Indra bisa memainkan instrumen dengan lancar selama satu bulan. Jadi gue harap lo semua mau bekerja keras kalau mau band ini maju.” Kata Wisnu.

Iman menelan ludahnya. “Satu bulan? Gue bisa gak ya?” tanya Iman pada dirinya sendiri.

“Bisalah. Seperti yang dibilang Wisnu. Kalau mau band ini maju, kita harus rajin latihan. Kamu yang pertama mengusulkan pembentukan band ini kan? Makanya kita harus serius.” Kata Indra sambil menepuk pundak Iman.

“Bener Dra. Dibalik semua ini emang gue yang mengusulkan bikin band. Jadi gue harus tanggung jawab sama kemajuan band ini.” kata Iman.

Semua yang ada di ruangan tersebut tersenyum termasuk Wisnu walaupun sangat samar. Dia berharap band ini bisa sukses. Walaupun sebenarnya berat untuknya untuk bergabung ke dalam sebuah band karena dia punya janji dengan seseorang. Janji untuk membuat sebuah band bersama.

“Fiction” chapter 5

Hari berikutnya datang tanpa bisa dicegah. Seperti biasa, Wisnu datang ke kampus dengan sepeda motornya. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Jadi Wisnu punya waktu luang yang banyak. Dan waktu luangnya tersebut dimanfaatkan oleh Iman yang berusaha membujuk Wisnu untuk bergabung di band-nya.

“Nu hari ini kita mau latihan. Lo ikut ya! Kita kurang tebengan nih.” Kata Iman.

Wisnu menatap Iman tanpa ekspresi. “Bukannya si Gani itu bawa mobil ke kampus ya? Mana mungkin kalian kurang tebengan.” Kata Wisnu.

Iman terlihat gelagapan. “Eh itu, mobilnya si Gani lagi…”

“Udah deh Man.” Kata Wisnu memotong perkataan Iman. “Gak ada gunanya. Gue gak tertarik sama band.” Lanjutnya.

“Oke oke!” kata Iman. “Tapi gue punya permintaan buat lo. Sekali ini aja!” pinta Iman.

“Apa?” tanya Wisnu seraya mengerutkan keningnya.

“Antar saya beli gitar ya!” kata Indra tiba-tiba saja bergabung dalam percakapan antara Iman dan Wisnu.

Wisnu menatap Indra agak enggan. Namun dengan segera Iman mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah kepada Wisnu.

“Please, Nu. Indra kan masih pemula. Dia perlu bantuan buat beli gitar. Lo mau kan?” pintanya sambil memelas.

Wisnu menghembuskan nafas ke udara. “Oke! Tapi ini doang. Gak pake ngajak gue lagi gabung ke band.” Kata Wisnu.

Iman dan Indra tersenyum puas. Lalu berangkatlah Wisnu dan Indra ke sebuah toko musik yang ada di jalan Naripan untuk membeli sebuah gitar.

Sesampainya di toko tersebut, mereka mulai melihat-lihat berbagai macam gitar yang terpajang di sana.

“Saya bingung, Nu. Mau beli yang kaya gimana.” Kata Indra.

“Patokan budget-mu berapa?” tanya Wisnu.

“Kalau soal harga sih gak masalah. Saya sudah bilang sama bapak dan bapak setuju kalau saya gabung sama band-nya Iman. Biar ada kegiatan katanya. Jadi beliau sangat mendukung saya.” Kata Indra.

Wisnu menatap Indra tak percaya. Selain menyukai musik rock, Indra juga orang yang cukup berada ternyata. Anak ini memang benar-benar penuh dengan kejutan.

“Kalau buat nge¬-band mending langsung beli gitar elektrik. Cuma gitar elektrik gak bisa bunyi kalau gak pake amplifier.” Jelas Wisnu.

Indra nampak kebingungan. “Terus kalau gak bunyi gimana mainnya?” tanya Indra.

“Kalau cuma buat latihan di rumah ya gak masalah. Yang penting kamu bisa menguasai chord gitarnya. Kalau mau bunyi ya latihannya di studio atau enggak beli amplifier-nya sekalian.” Kata Wisnu.

Indra mengangguk-anggukan kepalanya. “Wisnu, kamu saja ya yang pilihkan gitar buat saya. Saya benar-benar bingung mau beli yang mana. Semuanya saya suka.” Kata Indra sambil nyengir.

“Yakin? Ini kamu yang bakal main lho. Bukan aku.” Kata Wisnu.

Indra menganggukan kepalanya mantap. Dan mulailah Wisnu memilih-milih gitar yang sekiranya cocok untuk Indra. Berkali-kali dia mengambil gitar dan meletakannya kembali. Lalu akhirnya dia menemukan sebuah gitar sepertinya cocok untuk Indra.

“Kalau yang ini gimana?” tanya Wisnu meminta pendapat Indra. “Gitarnya cukup ringan dan kualitasnya juga bagus.”

Indra mengamati gitar yang dipilih Wisnu dengan seksama. “Boleh. Saya suka kok.” Kata Indra sambil tersenyum puas. “Menurutmu, apakah saya sekalian juga beli amplifier-nya?” tanya Indra.

Wisnu berpikir sejenak. “Kayaknya belum perlu deh. Kamu juga masih dalam proses memperdalam kemampuan bermain gitarmu kan? Nanti saja kalau sudah benar-benar mahir.” Kata Wisnu.

Indra menuruti perkataan Wisnu dan dia jadi membeli gitar yang dipilihkan Wisnu. Saat perjalanan pulang, Indra bertanya pada Wisnu.

“Wisnu, kamu kayaknya bisa pinter main gitar dan juga ngerti soal gitar. Kenapa kamu gak mau gabung dengan band-nya Iman?” tanya Indra.

Wisnu terdiam sejenak. “Bikin band itu gak mudah. Gak bisa band dibentuk dengan asal-asalan. Kalau mau sebuah band berjalan, orang-orang yang ada didalamnya harus serius.” Kata Wisnu.

“Kami serius kok.” Kata Indra. “Buktinya aku sudah membeli gitar. Yang lain pun begitu. Dan aku yakin Iman memilih orang-orang tersebut tidak sembarangan.”

Wisnu memutuskan untuk diam saja sampai mengantarkan kembali Indra ke studio tempat mereka akan latihan untuk pertama kalinya. Nampak Iman dan ketiga orang lainnya menunggu di depan studio.

“Makasih ya Nu.” Kata Indra.

“Gak masuk dulu?” kata Iman mencoba membujuk Wisnu.

Wisnu bersiap untuk menjitak kepala Iman tapi Iman sempat mengelak. “Iya deh iya. Gue cuma bercanda.” Kata Iman sambil nyengir. “Yu kita masuk!” ajak Iman pada yang lainnya.

Mereka semua nampak bersemangat mengikuti Iman. Semuanya bercengkrama sambil memasuki studio itu. Setelah mereka masuk, barulah Wisnu pergi dari situ. Dan tanpa diketahui Wisnu, di dalam studio terjadi sebuah kekacauan.

“Fiction” chapter 4

“Bikin band?” seru Wisnu dan Indra berbarengan saat Iman mengutarakan idenya.

Iman menepuk tangannya. “Ide gue hebat kan? Hitung-hitung refreshing lah. Tiap hari liat hewan ternak mulu. Bisa-bisa kita nanti kena syndrom ke-ternak-an yang bikin kelakuan kita kaya kambing dan kawan-kawannya.” Kata Iman.

“Bagus!”

“Enggak!”

Indra dan Wisnu menanggapi pernyataan Iman berbarengan tapi pendapat mereka berdeda. Iman menatap mereka berdua bergantian. Lalu tatapannya berhenti di Wisnu.

“Kenapa lo gak setuju Nu? Keren kan kalau punya band. Lo juga bisa main gitar kan?” tanya Iman.

“Cuma tiga orang dan…”

“Kita punya enam orang kok Nu. Bentar lagi mereka bakal ke sini.” Kata Iman. “Tuh orangnya!” lanjutnya saat dia melihat tiga orang sedang menghampiri meja mereka.

Mereka yang dimaksud Iman adalah seorang pria berperawakan tinggi, seorang pria berperawakan layaknya pria biasa, dan seorang perempuan dengan rambut ponytail-nya yang bergoyang setiap kali dia melangkahkan kakinya.

“Wisnu mungkin udah tahu mereka. Mereka sama kaya kita dari fakultas peternakan cuma beda kelas sama kita. Yang ini namanya Gani” kata Iman menunjuk pria dengan tinggi sekelas pemain basket.

“Yang satunya lagi namanya Alex dan yang cewe namanya Intan.” Lanjutnya.

“Indra. Saya mahasiswa pindahan dari Jogja.” Kata Indra memperkenalkan dirinya.

Setelah prosesi perkenalan selesai, mereka bertiga ikut duduk dan mulai membahas rencana mereka.

“Jadi kita bakal bikin band. Gue main drum, Wisnu di gitar, Gani di bass, Alex di vokal, Intan di keyboard, dan Indra…” Iman berhenti sejenak. “Lo bisa maen gitar gak Dra?” tanya Iman.

“Bisa sih. Tapi cuma sedikit. Itu pun dasar-dasarnya aja.” Kata Indra.

“Ya, gak apa-apa. Bisa dilancarin nanti seiring berjalannya waktu.” Kata Iman. “Gimana? Keren kan?” tanya Iman lagi.

“Gue gak ikut.” Kata Wisnu.

Semua orang menatap ke arah Wisnu.

“Lo kenapa sih Nu? Kita kan udah punya enam orang. Posisinya juga udah ditentukan. Apa lagi?” tanya Iman.

Wisnu memajukan badannya. “Denger ya! Bikin band itu bukan hal yang mudah. Kita kudu bisa nyamain persepsi tiap orang yang ada di band itu. Belum kalau anggota yang tiba-tiba cedera atau sakit. Kita harus bisa mengantisipasi hal itu agar kegiatan band bisa tetap berjalan lancar. Kita juga harus punya modal buat beli alat musik dan sewa studio untuk latihan. Dan semua itu gak mudah.” Jelas Wisnu.

Semuanya terpaku mendengarkan penjelasan Wisnu. Tapi tak satu pun yang bereaksi saat Wisnu berhenti bicara. Karena tak ada yang bicara lagi, Wisnu bangkit dari tempat duduknya. “Aku duluan! Kalau kalian tetep mau bikin band, anggota kalian juga sudah lengkap.” katanya pada semua yang ada di sana.

Setelah Wisnu menghilang, mereka baru tersadar.

“Apa maksudnya?” tanya Gani.

“Lo yakin dia bakal ikut kita Man?” kali ini giliran Alex yang bersuara.

“Apa-apaan itu tadi?” tanya Intan menanggapi juga.

“Gimana ini?” tanya Indra.

Iman tersenyum kecil. “Wisnu punya bakat. Tadi dia juga menjelaskan bagaimana sebuah band seharusnya bekerja. Dari sana aku yakin dia punya pengalaman dan pengetahuan tentang band. Kita tidak akan melepaskannya begitu saja. Kita harus bisa menjadikannya bagian dari band kita.” Kata Iman.

Semua orang hanya termanggu. Selanjutnya mereka kembali ke aktivitas masing-masing dengan tambahan pikiran tentang sebuah band.

“Fiction” chapter 3

Kuliah Fisiologi selama satu jam empat puluh menit yang diberikan Pak Deni akhirnya berakhir. Wisnu segera membereskan bukunya dan berniat menghampiri Indra. Saat dia berdiri dari tempat duduknya, ternyata Indra sudah berada di belakangnya.

“Hai mas. Ternyata mas kuliah di sini ya!” kata Indra dengan senyum ramahnya.

“Kamu sendiri? Perasaan belum pernah lihat di sini.” Kata Wisnu.

Indra tertawa kecil. “Saya mahasiswa pindahan di sini. Saya dan sekeluarga harus pindah ke Bandung karena Bapak dipindahkan kerjanya ke Bandung.” Jelas Indra.

“Mahasiswa pindahan ternyata. Gue kira kakak kelas yang ngulang. Lo kenal Nu?” tanya Iman yang tiba-tiba ikut dalam percakapan Indra dan Wisnu.

“Waktu perjalanan dari Jogja ke sini, gue ketemu dia.” Kata Wisnu.

Tampang bengong Iman keluar. “Kebetulan macam apa ini? Jangan-jangan kalian berjodoh?” kata Iman.

Jitakan kedua dari Wisnu mendarat di kepala Iman. Iman mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Dia memprotes Wisnu yang sudah menjitaknya dua kali dalam sehari ini. “Salah siapa ngomong sembarangan terus.” Kata Wisnu.

“Oh ya, gue Iman.” Kata Iman pada Indra setelah protesannya hanya ditanggapi begitu saja oleh Wisnu.

“Indra. Asal dari Jogja.” Kata Indra.

Mata Iman membelakak. “Lo nonton Fetro gak?” tanya Iman antusias. Namun rasa antusiasnya tiba-tiba menguap begitu saja. “Eh lo tahu Fetro kan?” tanya Iman. Dia meragukan pengetahuan Indra tentang band rock. Dari luar, Indra terlihat hanya menyukai musik-musik jaman dulu dan keroncong.

Indra tersenyum lebar. “Tahu dong. Kemarin juga saya nonton konser mereka yang di Jogja. Saya fans beratnya Adi, gitarisnya itu lho. Mana mungkin saya lewatkan kesempatan nonton konser mereka saat mereka ada di Jogja.” Kata Indra sama antusiasnya ketika Iman bertanya tentang Fetro tadi.

“Wah keren! Gimana penampilan mereka? Emang sih Adi keren, tapi aku suka Ryan, vokalisnya. Suaranya itu bro!” kata Iman dengan mata yang berbinar-binar.

“Iya. Ryan juga keren.” Kata Indra menyetujui.

“Ehem!” Wisnu berdehem dan membuat kedua orang yang sedang asik mengobrol tentang Fetro itu menoleh ke arahnya. “Mending ke kantin yu! Gue haus.” Kata Wisnu.

Iman menepuk bahu Wisnu sambil cengengesan. “Hehehe. Sorry Nu. Lo sih gak suka sama Fetro. Jadi pas gue nemu Indra gue jadi keasikan.” Kata Iman.

“Lho, Wisnu gak suka Fetro?” tanya Indra heran.

Kini dia menepuk bahu Indra. “Dia emang aneh Dra. Wisnu itu suka sama musik rock tapi gak suka sama Fetro.” Kata Iman. Seperti baru terbangun dari mimpi, Iman tiba-tiba terperanjat.

“Bro, tadi tuh kan gue punya ide yang hebat. Yu kita ke kantin. Kita ngobrol tentang ide gue ini.” kata Iman antusias sambil menarik Indra dan Wisnu menuju kantin.